Nama : Nana Winnit Muthamainnah
Nrp : H44100094
Laskar : 26
Cerita Inspirasi Autobiografi
Jumat pagi pukul 09.00WIB terdengar suara tangisan seorang bayi yang baru lahir ke dunia yang fana ini, bayi tersebut diberi nama Nana Winnit Muthmainnah, itulah nama yang diberikan kedua orang tuaku pada ku. Aku biasa dipanggil Nana tapi sewaktu aku duduk dibangku kelas 2SMP aku dipanggil “nanieth” itu adalah singkatan dari Nana Winnit dan panggilan itu berlaku sampai kelas 3SMA.
Sebenarnya aku bingung aku tidak tahu kalau di dalam diriku ini tersimpan Seven Philosophy Of Tree (SPOT). Seperti arti dari SPOT yang memiliki nilai tentang agama, moral, profesional, intelektual, empati, kewirausahaan, dan cinta pertanian.
Sejak SMP aku baru mengenal beberapa istilah SPOT yang bisa ku terapkan dalam diriku, diantaranya: agama, moral, intelektual, dan empati. Sebenarny bukan dari SMP ku mengenal istilah itu tapi sifat itu telah ditanamkan sejak dini oleh orang tuaku.
Agama adalah akar dari hidup kita, bila agama kita buruk maka moral, intelektual dan empati kita sudah pasti buruk. Sebagai contoh kadang aku sering dibuat pusing oleh dunia ini, tetangga ku adalah orang yang beragama semua tapi sayang moral mereka kurang baik, mereka hanya sok berpenampilan baik atau intelektual dan empati mereka terhadap sesama atau lingkungan pun kurang.
Setelah aku masuk di IPB peerlahan aku mulai bisa mengkombinasikan keempat hal tersebut. Profesional dan kewirausahaan baru aku mengerti saat SMA, ketika kita ingin sukes dalam bidang wirausaha maka kita harus bersikap profesiaonal, itu adalah sebuah makna dalam pelajaran Ekonomi saat aku kelas 1 SMA. Saat aku kelas 2 dan 3 SMA aku mulai belajar berwiusaha,usaha yang aku tekuni adalah berjualan makanan, tas dan baju juga sweather,awalnya malu saat berjualan tapi disinilah aku dituntut untuk profesional. Apalagi saat aku berjualan makanan aku harus menyodorkan langsung ke pembeli sebenernya aku malas untuk berjualan makanan tapi upah yang diberi oleh tante aku lumayan karena selain membuat jajanan yang dititipkan ke aku, tante ku adalah seorang Chef breakfast Hotel Horison Bandung. Makanya aku mau berjualan karena hasilnya pasti tidak akan sia-sia.
Dengan aku berjualan makanan aku semakin banyak dikenal oleh orang, dan semakin mudah aku menawarkan tas dan baju yang aku jual. Dan terakhir Cinta Pertanian,sederhananya kalau aku tidak cinta pertanian maka aku tidak mungkin tinggal di Indonesia yang begitu kaya dengan pertaniannya, dan aku tidak mungkin masuk Institut Pertanian Bogor.
Perlu kalian ketahui aku adalah seorang pelajar yang lemah bisa dibilang. Tapi aku selalu ingat dan ingin mencontoh sikap solidaritas dan empati juga kereligiusan serta inteletualnya idolaku Diana Spencer, karena beliau pun bukanlah seorang pelajar yang berprestasi. Dan aku akan selalu mengingat kata mutiara yang Diana Spencer (idolaku) katakan “bukan hasil yang dipentingkan di sini, tetapi proses untuk mewujudkannya”.
Cerita Inspirasi Biografi Diana Frances Spencer
Diana Frances Spencer mungkin lebih kita kenal dengan nama Putri Diana seorang wanita kelahiran Park House, Sandringham Estate 1 Juli 1961, Park House merupakan wilayah yang memiliki hamparan luas perkebunan dan pertanian juga petrnakannya. Lady begitu orang menyapanya adalah anak perempuan dari ayah yang bernama Edward Spencer dan ibu bernama Frances Spencer (istri pertama dari Edward Spencer).
Namun dalam bidang pendidikan beliau kurang begitu cerdas tebukti saat beliau bersekolah di Riddlesworth Hall di Norfolk dan di west Heath Girl's School, di Sevenoaks,Kent, prestasi yang dicapainya begitu rendah.
Pada saat Lady berusia 16 tahun,Lady meninggalkan sekolah West Heath untuk melanjutkan studinya di Institut Alpin Videmanette di Switzerland, sebuah sekolah yang menitikberatkan pada pendidikan budaya dimana disitu juga terdapat wadah bagi para pelajarnya untuk kegiatan - kegiatan sosial. Meski Lady tidak begitu baik dalam pelajaran,tetapi diam-diam Lady adalah seorang penyanyi amatir yang baik. Ya, memang benar hobi dari Lady adalah menyanyi maka dari itu orang-orang menyindirnya dengan sebutan penyanyi amatir.
Awal tahun 1981 tepat dibulan ke-2, yaitu Pebruai tanggal 24 Lady bertunangan dengan Pangeran Charles seorang pewaris tahta kerajaan Inggris. Dan masih ditahun yang sama Charles pun menikahi Lady pada tanggal 29 Juli di Kathedral St Paul, London pesta pernikahan yang mereka adakan pastinya sangat meriah. Selain Charles adalah seorang pangeran,Lady pun adalah seorang keturunan bangsawan Inggris dan Amerika.
Sempurnalah kehidupan seorang Diana Frances Spencer ini, karena bisa menikah dengan seorang pangeran. Ya walaupun Lady tidak berprestasi baik dalam pendidikannya, namun Lady adalah seorang agamis yang empati dan bermoral tinggi karena Lady mengajar disebuah Taman Kanak-kanak. Keprofesionalan Lady terlihat dari intelektualnya sebagai seorang puteri yang feminin sekaligus istri seorang Pangeran kerajaan Inggris dan ibu dari Pangeran William Arthus Philip Louis dan Pangeran Henry Charles Albert David.Seorang bangsawan pasti memiliki jiwa kewirausahaan yang baik.
Namun sayang beberapa tahun kemudian Pangeran Charles ternyata bepaling pada wanita lain dan tak lain wanita tersebut adalah pacar pertamanya yang bernama Camilia Parker Bowles. Dengan kondisi yang seperti ini Lady merasa tertekan dan dia pun menderita penyakit bulimia, tercatat hampir lima kali sudah Lady mencoba bunuh diri.
Harapan dunia hancur sudah, karena ternyata Lady pun berselingkuh dengan pria idaman lain, yaitu milyader Dodi al-Fayed.
Dan rumah tangga mereka tidak dapat dipertahankan lagi karena PM Inggris John Major pada 9 Desember 1992 telah mengumumkan bahwa pasangan itu hidup berpisah, pada 28 Agustus 1996 keduanya benar-benar berpisah. Kisah Lady dan Pangeran Charles bak dongeng yang diharapkan serba indah pun berakhir dengan perceraian.
Berita yang mengejutkan Inggris yang ditulis oleh Harian Woman's Day pada edisi 31 Agustus 1997 bahwa Diana Frances Spencer telah menningal dunia dalam kecelakaan mobil. Sayangnya kecelakaan ini terjadi pada saat intimnya hubungan Lady dan Dodi, maka dari itu banyak pihak yang berspekulasi bahwa kematian Lady tidak wajar.
Dunia terhenyak kaget dan bersedih. Wajar pula bila Inggris terkejut dan "marah". Namun Lady terlanjur pergi dan tidak pernah kembali. Tidak akan ada lagi senyum menawan wanita pemalu yang mencintai anak-anak dan sesama, tidak ada lagi wanita yang begitu aktif dalam kampanye anti-ranjau darat di seluruh dunia, mencintai musik klasik dan balet, serta pemain ski ulung dan jago renang.
Maraknya pemberitaan dan duka dunia atas meninggalnya Lady menunjukkan bahwa wanita itu memang memiliki kharisma luar biasa. Komitmennya terhadap kemanusiaan, dan perjuangannya mewujudkan keluarga yang berbahagia, memberikan inspirasi dan semangat bagi kaum wanita dunia untuk tidak mengenal lelah melakukan hal yang sama. Menjadi istri, ibu, dan sekaligus publik figur yang baik dan bermakna bagi sesama memang tidak mudah dilakukan oleh setiap orang. Namun seorang Lady Di telah berjuang keras meraihnya (meski gagal) di antara guncangan hebat kehidupan pribadinya. Bukan hasil yang dipentingkan di sini, tetapi proses untuk mewujudkannya.